Apalah Saya Dibanding Mereka..

Pagi tadi tanggal 6 September 2014 , saya melakukan perjalan ke kantor Oriflame cabang Sudirman yang berlokasi di gedung Standar Chartered Jakarta Pusat.

Perjalanan saya tempuh dengan naik bis dari Jababeka Cikarang. Biasanya sih milih naik bis punya Jababeka ..walaupun tarif lebih mahal tapi kenyamanan dijamin. No pengamen, no pedagang..jadi bisa menikmati perjalanan tanpa diganggu alias bisa tidur ..hehehe

Berhubung sudah kesiangan jadi naik bis yang lewat aja biar cepat sampai. Di perjalanan saya sungguh kagum..

Saya terkagum-kagum sama mereka yang berprofesi sebagai pedagang asongan. Mereka begitu sigap, naik bis satu..turun lagi..trus naik lagi..

Tidak ada wajah lelah ..salut..

Pedagang kanebo (lap pembersih) dengan lihai berpromosi. Menjelaskan keunggulan produk jualannya , walaupun hampir semua orang sepertinya sudah tau persis fungsi lap kuning satu ini..

Pedagang buku dengan fasih membuat sinopsis tentang buku andalannya ..mungkin yang jadi best seller lah ya…

Lalu apalah usaha saya dibandingkan mereka…?

Saya konsultan Oriflame…jualan produk kecantikan. Sering pakai juga ..tapi kadang ada rasa malu untuk menjajakan dagangan..:( 

Padahal nih ya kalau dipikir-pikir..produk yang saya jual itu wangi, harum trus bikin cantik dan ganteng. Saya jualan pun bermodal katalog dan beberapa tester itupun hanya sebiji atau 2 biji produk. Dibanding mereka bawa 1 kerdus buku naik turun bis..

Lalu…apalah saya dibanding mereka..?

Usaha saya jauh padahal Oriflame menjanjikan hidup jauh lebih baik ( dibidang finansial ) dibanding penghasilan mereka jika diseriusin jalanin bisnis Oriflamenya

Dan saat pulang pun saya bertemu dengan penjual buku. Setelah demontrasi buku lalu penumpang dikasih pinjem lalu sang penjual menunggu dekat pintu bis keluar untuk memberikan calon pembeli kesempatan melihat isi buku.

Bengong dengan wajah lusuh dan tatapan kosong.

Saya hanya sebagai pengamat saja.. 😀

Setelah kurang lebih 5 menit berlalu, satu persatu buku pun masuk kembali ke dalam kardus dagangan. Pedagang pun diam dengan tatapan kosong.

Melihat itu saya pun bertanya, dan obrolan singkat pun dimulai. Kesimpulannya si bapak penjual hari ini baru jual 3 buku. Keuntungan per buku cuma 4500 rupiah dengan dijual seharga 10ribu.

” lagi sepi bu..biasanya dapet jual 10 sampai 14 buku jadi lumayan untungnya..”

Saya pun membayangkan saat itu hanya bawa uang 13rb , kerja dari pagi pulang sore dengan mikul buku satu kardus naik turun bis..OMG…

Bukan bermaksud sombong..kadang untuk sekali makan saja , saya bisa lebih dari itu.., hiks..

Lalu saya pun pinjam buku dagangannya, lalu saya pun membeli buku yang kebetulan anak saya mau membacanya. Dan kalau rejeki memang sudah diatur…

Setelah wawancara singkat tadi , ternyata ada penumpang lain juga yang ikut membeli. Mungkin pikirannya sama dengan saya ya…membagikan sedikit kebahagian buat si bapak penjual buku.

Tam hentinya saya mengucap syukur . karena saya bekerja tidak sekeras si bapak penjual tadi. Saya hanya bekerja keras di depan layar komputer. Tidak berpeluh bertarung dengan sang Surya dan sang hujan..

Puji syukur hamba padaMU Tuhan ku..

*sekilas cerita jababeka-OriflameSudirman

ds-putih-468

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s