Bisnis Itu Butuh Keberanian

Halo…halo…

Sebenarnya saya mau menumpahkan segala uneg-uneg yang menganjal dihati selama beberapa hari terakhir.

Jadi ceritanya saya mau membantu seseorang untuk memulai usaha dagang skala kecil, kecilll banget hehe sebut saja namanya MAWAR

Saya mulai mengambil uang tabungan sebesar 200ribu untuk membeli daging ayam dan beberapa macam bahan untuk lauk. Karena saya berfikir ada peluang berjualan makanan untuk sarapan di sekitar komplek rumah.

Memulai ke pasar membeli bahan yang dibutuhkan dan jadilah beberapa macam menu seperti ayam goreng laos, ayam goreng kremes, telor balado, sayur sop dan pindang balado.

Bangun pagi sangat…( terpaksa membuka mata jam 2 pagi). Memulai memasak dan akhirnya selesai bungkus jam 6 pagi.

Nah….saat yang paling penting pun tiba yaitu pemasaran. Yang memasarkan bukan saya tapi Mawar.

Saya kasih pinjamkan motor untuk keliling komplek dan segalanya sudah saya siapkan sedetail mungkin, sehingga hanya bertugas menjual saja.

Hati saya pun mulai dilanda berbagai macam bayangan , tapi berusaha berfikir positif. Tapi setiap saat saya lihat jarum jam yang serasa lama berputar. Hingga sampai saya mau jemput anak sekolah pun belum ada tanda-tanda kedatangan Mawar dan saya pun jalan kaki ke sekolahan sambil menggendong bayi 2 tahun …ngos2an hehe

Sampe akhirnya jarum jam berada tepat di angka 12, Mawar dateng.

Di pikiran saya cuma kuatir basi, secara sayurnya dimasak pagi sekali dan di bawa muter-muter di bawah matahari. Tapi rasa kuatir saya berubah dengan rasa kecewa ketika melihat keranjang yang dipakai angkut masih terisi penuh….*nangisdalamhati*

Saya bertanya dimana aja jualan, dijelaskan panjang lebar dan hanya memberi hasil jualan 29 ribu.

Tapi saya masih belum nyerah, saya pun memutuskan untuk mengganti menu jualan berupa camilan goreng-gorengan.

Proses sama seperti diatas, kepasar terus besoknya membuat dan dipasarkan. Dan kejadian pun sama persis. Jam kedatangan sama dan hasilnya pun sama. Untuk gorengan kali ini pun hanya membawa pulang uang 4ribu rupiah saja.

Nyes….nyesek saya dalam hati..

Akhirnya evaluasi sendiri karena hanya ada 2 faktor saja yaitu barang dan pemasaran. kalau dari segi barang ,rasa termasuk enak lah ya..karena saya sendiri sering dapet pesanan dari temen kantor suami jadi kesimpulan saya karena faktor si penjual.

Apakah kurang manis pemasarannya atau hanya muter-muter aja  itu yang belum saya gali dari si Mawar.

Mawar ini tipe pendiam jadi agak susah juga saya mau ngulik-ngulik cerita.

Nah inti dari curcol kali ini sama seperti judulnya, mau bisnis butuh keberanian. Semakin besar modal yang dikeluarkan semakin besar resikonya, antara resiko untung dan resiko rugi.

Analisa pasar sangat diperlukan tapi jangan lupa analisa tenaga kerja. Jangan sampai uang yang sudah diivestasikan menjadi ‘basi’

Adakah diantara teman-teman yang baru memulai usaha konvensional? Boleh sharingnya disini…

bannerds-kuning-merah_468x60

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s